Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

14 September, 2013

Jika; Maka



Jika,
menanti pagi tak kunjung pergi
menanti petang tak kunjung datang
menanti malam tak kunjung kelam

Maka,
berdamailah dengan keadaan,
berserah dirilah pada keputusan Tuhan.

Rabat, 14 September 2013

Datang; Pulang

Selamat Datang engkau yang datang
Selamat jalan engkau yang pulang

Kehidupan adalah datang dan pulang

Datang lalu pergi
Pulang lalu kembali

Rabat, 14 september 2013

13 Agustus, 2013

Cantik Secantik Bidadari

Tak ada kecantikan yang berarti
selain kecantikan akhlak, budi pekerti
untuk apa cantik secantik bidadari
tapi akhlak buruk tak terperi
untuk apa cantik secantik bidadari
tapi dihatimu hanya ada kesombongan dan bangga diri

Coba kau buka Al-Qur'an
lihat ayat-ayatnya
tak satupun kata Al-Qur'an yang memuji kecatikan fisik seorang wanita dunia.

Al-Qur'an hanya memuji bidadari-bidadari Tuhan di surga
yang bening sebening yakut dan Marjan

Kalian tau kenapa Tuhan memuji kecantikan bidadari-bidadari itu..?

Karena mereka sangat tertutup,
tak pernah terlihat oleh siapapun
tak pernah disentuh oleh siapapun
bahkan para malaikat sekalipun

Kecantikan mereka hanya untuk suami-suami mereka (Hamba yang sholeh) nantinya.

Oleh karena itu, tak ada gunanya kau pamer kecantikan di depan kami yang bukan suami-mu

Kau syukuri saja anugerah kecantikan itu,
jaga dan rawat ia untuk suami-mu
agar kelak di hari pembangkitan
kau menjadi ratu para bidadari-bidadari itu.

Rabat, 13 Agustus 2013.

29 Juni, 2013

Maling-Maling Berdasi

Kalian bukan koruptor. Tapi, maling-maling
Bahasa koruptor terlalu halus untuk kalian maling-maling
Dimata kami, kalian adalah maling-maling berdasi
Lebih berbahaya dari seribu maling-maling kami di kampung
Maling-maling kami hanya mencuri sebiji singkong
Itupun, kami tak perlu penat mengejarnya
Karena tempat terakhirnya pasti di penjara
Kalau tidak berdarah-darah diamuk massa

Sedangkan kalian maling-maling berdasi
Bahayamu menumbangkan Negeri
Tapi senyummu selalu terpatri
Membuat kami kere sepanjang masa
Kalian malah merasa berjasa
Membuat Negeri lemas tak bernapas
Kalian malah dilepas lapas.

Kami ulangi lagi,
Kalian bukan koruptor. Tapi maling-maling berdasi.

Mohammedia, 29 Juni 2013.

16 Juni, 2013

Para Pengumbar Janji-Janji

Kalian sombong sekali
Tak tolehku kanan-kiri
Lupa pada yang diberi janji-janji
Pada hari-hari umbar janji

Musim telah pergi
Janji-janji belum ditepati
Kini kau duduk pada kursi
Lupa padaku yang disini

Kau lupa, atau kau lupakan aku
Besok-besok, kalau telah datang musim umbar janji
Kuharap kau tak tambah janji-janji
Janji-janji yang dulu saja belum ditepati

Bukan aku tak tau atau tak mengerti
Saat kalian di kursi
Kalian malah bermain prostitusi
Berpelesiran keluar negeri
Pura-pura datang mengkaji
Padahal hanya memuaskan birahi

Maroko, 16 Juni 2013

01 Juni, 2013

Aku si Muka Buku


Aku si muka buku
Berwajah biru
Berdinding semu

Aku si muka buku
Pembunuh waktu
Pembela nafsu

Aku si muka buku
Penabuh pamer
Pembungkam tulus

Aku si muka buku
Pengemis suka
Pengamen komen

Duniaku penuh kebohongan
Penuh kepalsuan
Bukan realita nyata

Itulah aku, si muka buku
Berwajah biru
Berdinding semu
Kalian pasti mengenaliku



Maroko, Juni perdana '13
Masih dalam suasana ujian semester
tepatnya "Minggu Berkabung"

27 Mei, 2013

Rasa

Tuhan...
Aku paham,
rasa ini datang dariMu, dan
aku mengerti,
jika aku tak mampu memikulnya,
Kau takkan titipkan ia padaku.
Untuk itu Tuhan,
kuserahkan kembali rasa ini padaMu,
dalam pasrah aturan dan suratanMu,
untuk alur cerita hidupku.
Karena aku dan rasa ini adalah milikMu...


Maroko, 26/05/13.

09 Mei, 2013

Aku, Dia; Cinta


*Perkenalan
Aku mengenalnya sepintas saja,
Sekedar pernah bersapa
sekedar sapa apa adanya,
hanya seperlunya.
Tak kurang tak lebih.

Aku tak pernah menyapanya lebih banyak,
bukan aku tak mau atau tak berani,
tapi aku menghormatinya.

Dia begitu bersahaja,
menjaga pandangan, pakaian dan tutur kata.
Jadi, mana mungkin aku merusak 
semua keindahan itu.
Aku tak ingin keanggunan busana dan tutur katanya 
ternodai oleh tingkah lakuku.

*Permata Berlapis Kaca 
Dia ibarat permata berlapis kaca,
tak ada yang bisa menyentuhnya,
karena ia sangat istimewa.

Tapi entah kenapa,
tegur sapa ala kadarnya itu membuatku kelimpungan,
seolah baru menyapa sang ratu bertahta.
Terkesan sekali aku dibuatnya.

*Definisi Cinta
Sampai saat ini,
aku hanya mampu menatap dan menyapanya dari jauh,
jauh sekali,
dari lubuk hatiku yang terdalam.

Dia membuatku mengaguminya terlalu berlebihan,
sampai aku tak mampu memahami,
apakah ini kekaguman yang wajar,
atau ini yang mereka sebut Cinta itu.

Cinta? Ah, kata-kata itu terlalu klasik untukku.
Kata-kata yang telah lama kudengar, dengan sejuta definisinya.
Tapi, jujur, aku tak pernah memahami
bagaimana citrarasa makhluk yang bernama Cinta ini,
apalagi mendefinisikannya dalam versiku sendiri.
Aku buta tentang rasa ini.

*Tentang Cinta 
Tentang Cinta,
sebenarnya banyak teman yang mengajariku,

katanya cinta itu indah,
cinta itu sahdu mendayu.

Bahkan, Habiburrahman el-shirazy
Sang penulis novel-novel tentang cinta
yang sangat kukagumi itu
ikut mengajariku tentang cinta,

katanya:

"CINTA adalah KEKUATAN yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibbah,
itulah CINTA."

*Pengakuan Jujur Tentang Cinta 
Dalam puisi selanjutnya,
beliau menyadari bahwa, 
tak ada yang mampu mendefinisikan cinta secara utuh,
sama sepertiku yang bahkan tak pernah mampu sama sekali
mendefinisakan cinta dalam versiku.
Ini pengakuan jujur beliau itu,

"Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, CINTA ternyata lebih terang.
Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya.
Kata kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada CINTA.
Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur.
CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan."

*Pinangan 
Jika membuka lembaran masa lalu,
sepertinya sudah beberapa kali aku pernah mengagumi
lawan jenis yang sebaya atau
beberapa tahun lebih muda dariku.

Tapi entah kenapa, yang ini sepertinya lain.
Aku seolah mengagumi semua sisi darinya.
Tentang senyumnya, tawanya, sapanya, busananya, akhlaknya,
dan lain-lainnya, begitu banyak.

Tapi sekali lagi,
aku telah bertekad takkan mengusiknya,
apapun namanya.

Biar rasa ini berlalu begitu saja.
Aku tak berhak mencurahkan rasa ini kepadanya,
jika aku tak mampu menatapnya dalam tatapan halal yang lebih lama.

Jarak masa begitu membentang jauh
jika aku mengutarakan rasa ini
dalam lembaran pinangan dan
kemudian memintanya menunggu untuk sebuah akad suci itu.

Karena aku masih punya asa untuk kedua orangtuaku.
Untuk membahagiakan mereka terlebih dahulu.
Tak ada kebahagianku sebelum kebahagian kedua orang tuaku.
Itu komitmenku tempo dulu yang takkan pernah kuingkari.

*Bayang-Bayang Rindu 
Jujur saja,
aku tak ingin meraba rasa ini terlalu dalam,
karena takut ia hanya sekam
yang akan membakarku
jika terpercik api-api nafsu itu.

Aku berusaha untuk selalu menghindar darinya,
walau terkadang aku tak berkutik
kala rindu dan bayang-bayang itu menyambangi dalam sepi.

*Janji-Janji Surga
Sudahlah, 
aku tak mampu berbuat banyak,

menghapus virus ini terlalu kusar bagiku,
membiarkannya tetap bersarang dalam hati
juga hanya akan membuatku semakin beku.

Biarlah semua ini mengalir pada arusnya,
berotasi pada orbitnya.

Untuk saat ini, aku hanya mampu mengatakan
"aku sungguh mengagumimu" itu saja.

Tak mau berharap lebih.
Tak mau berjanji-janji surga.

*Makhluk Halus Bernama Cinta
Terakhir,
jika benar ini cinta,
ia akan kuserahkan pada takdirNya.

Jika catatan di Lauh Mahfuzd itu,
aku bersamanya, maka
dia pasti ada dihujung penantian,

namun jika catatan takdir itu,
aku bukan bersamanya,

pasti orang yang lebih baik dariku,
yang lebih beruntung dariku,
yang lebih pantas dan siap dariku
akan menemukannya.

Biar rasa ini hanya jadi rahasia antara aku dan Tuhanku.
Dalam misteri sebuah rasa.
Pada makhluk halus bernama Cinta.


Di malam yang mulai menghangat,
Maroko, 8/5/2013.

18 April, 2013

Optimis INDONESIAKU


Aku ingin menatap optimis INDONESIAKU di masa depan,
Karena harapan itu masih ada.

Semoga kebobrokan dari semua lini yang ditampilkan di depan layar panggung TANAH AIR saat ini, tak lama lagi akan berganti dengan layar kejayaan dan kegemilangan.

Karena kami ada untukmu INDONESIAKU…!
Karena kami ada untukmu TANAH AIRKU...!

Mari temani aku menatap optimis INDONESIA di masa depan, kawan !

Puisi dan Hidup


 Selain berima,
puisi harus bermakna
Biar kata tak sekedar kata
Biar pena tak hanya bicara
Begitu juga hidup, kau analogikan saja, kawan!

@el-Amdah Ihsan-Maroko, 24/03/'13

Masalah

Mau tidur teringat padamu
Mau makan teringat padamu
Mau apapun teringat padamu
Masalahku...

Kemanapun ada bayanganmu
Dimanapun ada bayanganmu
Di semua waktuku ada bayangmu
Masalahku...

Kau datang bertubi-tubi, berlusin-lusin
Hampir babak belur aku dibuatmu
Mungkin ini tebusan atas dosa-dosaku,
atau teguran atas kelalaianku...
#semoga aku kuat dengan pertolongan-Nya.

@el-Amdah Ihsan-Maroko, 21/10/12

01 April, 2013

Cinta & Pandangan Pertama


Tanpa rasa
Tanpa cinta
yang bermula
Kita berjumpa

Tanpa nada
Tanpa irama
yang bergema
Kita bersua

Pandangan pertama
dalam diam
sepi, sunyi
aku terkesima, dan jatuh cinta.


Mohammedia, 1 April 2013.

24 Maret, 2013

Sholehah

Senyummu indah merekah
bertengger pada ranting yang gagah
berselimut daun nan megah

Sapamu begitu ikhlas
menyimpan paras dalam ruas
berbalut syari'at, bertutup aurat

Bicaramu seadanya
tak kurang, tak lebih
biasa-biasa saja

Tawamu seperlunya
tak kurang, tak lebih
biasa-biasa saja

Candamu selayaknya
tak kurang, tak lebih
biasa-biasa saja

Busanamu sederhana
tak kurang, tak lebih
biasa-biasa saja

Engkau sederhana
engkau biasa-biasa saja
dalam tingkah polah hawa

Tak berlebihan
apa adanya
karena kau mafhum agama

Engkaulah sholehah
pentarbiyah generasi ummah
penopang tiang negara
permata terindah dunia.


14 Maret, 2013

Sebuah Perjalanan

Ketika sebuah bisikkan datang menghampiri
Labuhkanlah perahu tuamu
Bentanglah layarnya
Arungilah samudera kesuksesanmu

Tanpa ku mengerti
Tanpa ku sadari
Tanpa ku duga
Tanpa ku rasa

Ku ikuti bisikkan itu
Ku labuh perahu tuaku
Ku bentang layarnya
Ku tinggalkan pulau kecilku

Pulau tempat tingggalku
Pulau masa kecilku
Pulau tempatku menangis
Pulau tempatku menjerit

Mengarungi samudera,
Lautan tiada tepi
Hanya ombak yang ku temui
Suasana sepi

Aku dibawa angin berlayar
Ku resapi kebahagianku
Ku terlepas dari belenggu
Belenggu penderitaan pengekangku

Namun, itu tak lama ku rasa
Ternyata hanya sebuah pariwara
Yang hadir dalam mimpi
Mimpi baruku

Angin topan datang menerjang
Hujan deras
Kilat, petir datang menyambar

Perahuku tenggelam
Terdampar disebuah pulau
Buas tak bertuan
Tempat penuh duka, derita; sengsara

Ku berteriak sekuat hati
Mengharap malaikat datang menghampiri
Membawaku pergi
Membawaku kembali

Namun, itu takkan pernah terjadi
Siapa tahu deritaku
Siapa mengerti batinku
Siapa mendengar jeritan hatiku

Aku hanya mampu berharap
Agarku mampu bertahan
Dalam lumbung penderitaan

Sehingga kabar gembira itu bertandang
Membawaku pergi, Membawaku kembali


# Bogor, 14/10/2009