08 Agustus, 2012

Mengintip Aktivitas Raja Maroko di Bulan Ramadhan

Suasana Durus Hassaniah (Google image)
Ada sebuah pengajian rutin yang selalu diadakan oleh raja Maroko ketika bulan suci Ramadhan. Pengajian ini diberi nama “Durus Hassaniah” (الدروس الحسنية : Dourous hassania). Sebuah pengajian Ramadhan yang telah hadir secara turun-temurun dan sudah menjadi tradisi bagi para raja yang berkuasa.

Raja Maroko pertama yang memulai pengajian Ramadhan tersebut ialah Sultan Moulay Ismail (1672-1727). Setelah sempat terhenti, tradisi tersebut dihidupkan kembali oleh Raja Hassan I (1873-1894) dan dibakukan pada tahun 1963 oleh Raja Hassan II (Bapak Raja Mohammed VI yang berkuasa sekarang) sebagai kegiatan rutin pada setiap bulan Ramadhan. Yang masih berlangsung sampai sekarang.

Tempat pengajian diadakan di istana Raja, kota Casablanca. Dihadiri langsung oleh raja Maroko, seluruh duta besar negara Islam, para anggota kabinet, pimpinan partai politik, dan tokoh sipil maupun militer, serta disiarkan secara live oleh stasiun televesi dan radio setempat. Agar masyarakat bisa menyaksikan langsung acara tersebut.

Pengajian bertemakan tentang perihal keilmuan dan politik. Para ulama yang diundang untuk memberikan ceramah langsung dihadapan raja tersebut diberi waktu sekitar 45 menit atau lebih untuk memaparkan isi makalahnya. Ada sebuah simbolik yang mencerminkan tentang keagungan ilmu atas kekuasaan dalam pengajian ini, yaitu seorang ulama atau da'i menyampaikan ceramahnya dengan duduk diatas mimbar. Sedangkan sang raja hanya duduk di lantai.

Ternyata pengajian ini hadir  memang diniatkan sebagai bentuk penghormatan atau penghargaan terhadap para ulama. Hal ini bisa dilihat dari para ulama yang diundang oleh raja-raja tersebut, para ualam yamg hadir tidak hanya dari dalam Maroko saja, tapi di luar Maroko atau maca Negara juga ikut diundang. Bahkan Sejak tahun 2003, Raja Mohammed VI, membuat gebrakan dengan menunjuk dan melibatkan para ulama wanita untuk berceramah dan hadir dalam Durus Hassaniah Ramadhaniah tersebut.

Diantara para ulama  besar manca negara yang pernah diundang dalam pengajian ini antara lain:
 Syekh DR. Yusuf al-Qardhawi, (pengarang kitab Fiqh Zakat yang fenomenal).
Syekh Sa'id Ramadhan al Bouthy (guru besar ilmu syari’ah Suria).
 Syekh Mahmud khalf jirad al ‘isaawy (imam & khatib besar universitas syekh Abdul Qodir al Kailany, Iraq).
Syekh Muhammad Sa’id Thantowi (salah satu imam besar universitas al Azhar, Mesir). Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Adapun ilmuan dari  dalam negeri Maroko sangat banyak, dan untuk menghemat tulisan ini. maka saya sarankan agar antum kunjungi sendiri link berikut:http://bit.ly/P5fu2f

KH. Said Aqil Siradj saat menyampaikan ceramah (Google image)
Sedangkan ulama dari Indonesia yang pernah diundang oleh Raja Muhammad VI, dan merupakan ulama putra  Indonesia pertama yang mendapat penghargaan ini ialah Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, MA (Ketua umum PBNU saat ini). Beliau diundang sekitar dua tahun yang lalu. Ramadhan tahun 1431 H/2010 M. Dengan judul makalah “Perlindungan Agama dan Kepercayaan di Negara Demokrasi."
Isi Makalah Kang Said dalam Sebuah Surat Kabar Maroko (KBRI Rabat,Maroko)

video
Ceramah Kang Said dalam bentuk youtube
untuk video selanjutnya, silahkan klik link berikut: http://bit.ly/S2ghNY

Pada tahun ini, Indonesia kembali mendapat undangan kehormatan oleh Raja Muhammad VI. Tamu kehormatan kali ini ialah ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta. Dr. KH. Hamdan Rasyid, MA. Namun beliau diundang hanya sebagai mustami’ (pendengar). Tidak untuk menyampaikan ceramah.