14 Maret, 2013

Sebuah Perjalanan

Ketika sebuah bisikkan datang menghampiri
Labuhkanlah perahu tuamu
Bentanglah layarnya
Arungilah samudera kesuksesanmu

Tanpa ku mengerti
Tanpa ku sadari
Tanpa ku duga
Tanpa ku rasa

Ku ikuti bisikkan itu
Ku labuh perahu tuaku
Ku bentang layarnya
Ku tinggalkan pulau kecilku

Pulau tempat tingggalku
Pulau masa kecilku
Pulau tempatku menangis
Pulau tempatku menjerit

Mengarungi samudera,
Lautan tiada tepi
Hanya ombak yang ku temui
Suasana sepi

Aku dibawa angin berlayar
Ku resapi kebahagianku
Ku terlepas dari belenggu
Belenggu penderitaan pengekangku

Namun, itu tak lama ku rasa
Ternyata hanya sebuah pariwara
Yang hadir dalam mimpi
Mimpi baruku

Angin topan datang menerjang
Hujan deras
Kilat, petir datang menyambar

Perahuku tenggelam
Terdampar disebuah pulau
Buas tak bertuan
Tempat penuh duka, derita; sengsara

Ku berteriak sekuat hati
Mengharap malaikat datang menghampiri
Membawaku pergi
Membawaku kembali

Namun, itu takkan pernah terjadi
Siapa tahu deritaku
Siapa mengerti batinku
Siapa mendengar jeritan hatiku

Aku hanya mampu berharap
Agarku mampu bertahan
Dalam lumbung penderitaan

Sehingga kabar gembira itu bertandang
Membawaku pergi, Membawaku kembali


# Bogor, 14/10/2009

12 Maret, 2013

Pemenang Hakiki


Hadirin wal hadirat, sidang jama’ah Jum’at yang berbahagia.
Secara ilmiah dan realistis, kita terlahir ke dunia ini sebagai pemenang. Karena sebelum lahir, masing-masing kita telah mengikuti sebuah kompetisi luar biasa, konon dengan jumlah peserta hampir 700 juta banyaknya, bukankah itu sangat dahsyat dan luar biasa? Iya. kita memang luar biasa, kita adalah sang jawara. Itulah realita yang ada, kita terlahir sebagai pemenang.

Allah SWT telah menciptakan kita melalui perantara seorang ayah dan ibu, dari ratusan juta (100-700 juta) sel sperma sang ayah yang kemudian menuju kesatu tujuan, yakni sel telor ibu. Dari perjalanan menuju sel telor sang ibu itulah dimulainya sebuah kompetisi dahsyat yang sangat luar biasa itu. Bersama ratusan juta peserta yang lain kita berlomba untuk menentukan siapa yang tercepat dan mampu bertahan sampai finish untuk membuahi sel telor. Saat itu hanya satu yang akan jadi pemenang, dan Allah mentakdirkan kita sebagai pemenang dalam kompetisi itu. Dengan tropi diberikan hak untuk menatap dunia ini, serta menyandang amanah sebagai khalifah di muka bumi-Nya.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً.....

“Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kapada para malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”…..(QS.al-Baqaroh:30)

Sidang jama’ah Jum’at yang berbahagia
Jika sejak lahir kita sudah ditakdirkan sebagai pemenang, kenapa sekarang kita harus jadi pecundang. Bukankah dalam sehari setidaknya lima kali kita diseru oleh sang muadzin untuk meraih kemenangan. Subuh ketika sang fajar shadik terbit, siang ketika sang surya tepat di ubun-ubun, dan petang ketika bayang-banyang benda berbentuk sama dengan aslinya; sore ketika sang surya kembali keperaduan, dan malam ketika mega merah menghilang.

 “Hayya ‘Alal Falah”(mari meraih kemenangan) itulah seruan sang muadzin yang mengajak kita untuk selalu meraih kemenangan. Iya, dengan mendirikan sholat kita berarti menuju sebuah kemenangan atau kejayaan. Menang yang tak hanya di dunia. Namun, di akhirat juga nantinya.

"إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ. فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِر..."

“Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (HR. An-Nasaa’i dan Tirmidzi)”

Itulah konsep kemenangan dalam Islam, menang ketika di dunia fana, menang ketika di alam Baqa. Sebuah kemenangan yang selalu dipinta hamba muslim dalam setiap do’anya.

"...رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ"

 “,,,Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat kelak dan hindarkanlah kami dari adzab api neraka.”(QS. Al-Baqorah:201).

Sidang jama’ah Jum’at yang berbahagia
Itulah kemengan hakiki. Dunia-akhirat berjaya. Apalah arti kemengan di dunia kalau di akhirat sengsara.
Tentu kemenangan besar ini tak bisa kita raih dengan instan. Disana banyak jalan terjal dengan jurang-jurang yang dalam disetiap sisinya. Sedikit saja kaki salah melangkah, jurang-jurang dalam itu siap menerkam kita.
Iblis laknatullah dan laskar-laskarnya, baik dari golongan jin dan manusia tak tinggal diam. Mereka selalu setia merintangi jalan menuju kemenangan besar itu. Mereka takkan pernah berhenti memalingkan langkah kita kearah kekalahan dan kerugian besar itu. Mereka selalu beraksi mencari titik lemah kekuatan kita. Depan belakang, kiri kanan, atas-bawah. Dari seluruh penjuru arah.

Mereka akan bersorak kegirangan kala kaki kita tergelincir kedalam lembah kemaksiatan. Mereka akan selalu mengipasi kita agar bertahan di lembah itu untuk selamanya, sampai nyawa  lepas dari raga kita, dan kita mati dalam seburuk-buruk kematian (suul khotimah). Naudzubillah min dzaalik.

Jalan ke Neraka (yang merupakan buah kemurkan-Nya) selalu ditemani oleh kenikmatan-kenikmatan syahwat. Sedangkan jalan ke Surga (yang merupakan buah keridhaan-Nya) selalu ditemani oleh hal-hal yang berlawanan dengan keinginan dan kecenderungan syahwat,Penuh duri, dan pasti tak semulus jalan ke Neraka.

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ""

 “Neraka diselubungi (dikelilingi) oleh syahwat, dan surga oleh kesulitan-kesulitan”.(HR.Bukhari-Muslim)

Oleh kerena itu, tentu dibutuhkan sebuah keistiqomahan yang luar biasa juga dalam meraih kemenangan besar itu. Istiqomah dalam ketakwaan, dengan bersabar dalam mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta senantiasa mendirikan Sholat.

"وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ . الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ"

" Dan mintalah pertolongan ( kepada  Allah) dengan sabar dan sholat, Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , ( yaitu ) mereka yang yakin , bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya ” ( QS Al Baqarah : 45 -46 )”

Semoga kita mampu menjadi pemenang hakiki itu, kemenangan di dunia dan kemenangan di akhirat. Semoga Allah SWT selalu membimbing langkah kita menuju ridha-Nya, jalan ke surga yang dijanjikan-Nya. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

:: Disampaikan pada khutbah Jum'at KBRI Rabat, Maroko. 22/2/2013


08 Maret, 2013

Furniture & Dekorasi

Foto-foto ini diambil ketika pameran Furniture & Dekorasi (Mebel) musim panas 2012, di Rabat, Maroko. Saat itu saya sedang jalan-jalan untuk berbelanja ke sebuah swalayan (Marjan) yang ada di Kota Rabat. Sebelum saya masuk untuk berbelanja, ternyata tepat di samping Marjan ini sedang diadakan Pameran Mebel yang di Hadiri oleh beberapa negara dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia. So, saya abadikanlah karya-karya indah ini....Cekidot...!









Bagaimana, indah dan unik bukan,,,?

03 Maret, 2013

Asaku

Asaku porak-poranda
Oleh kista kemalasan
Oleh diam kebekuan

Asaku meraung, mengemis tolong
Agarku lari dari kista kemalasan
Agarku pecah diam kebekuan

Asaku menggelepar sekarat
Mengaduh, Menyayat

Semoga belum terlambat
Untukku tegak berdiri
Agar asaku tak mati suri.

20 Februari, 2013

Misteri Sebuah Rasa

misteri,rasa,rindu

Aku bingung
Bingung, pada diriku yang bingung
Bingung, pada diriku yang linglung

Entah kenapa
Entah darimana
Entah bagaimana
Dia hadir begitu saja
Merenggut asa
Menelan nestapa
Mengikat raga
Memasung jiwa
Akhirnya menambah siksa

Rasa ini bak telaga surga
Yang tak pernah ku rasa
Aneh, sungguh aneh
Tapi, seolah-olah nyata
Di depan mata, setiap berkaca

Rindu ini bak nirwana
Indah, tapi tak terbaca.
Aneh, tak terindra.
Seaneh dia yang hadir begitu saja

Sapanya, senyumnya, semua darinya
Indah nian rasanya
Madu saja kalah rasa dengannya
Apalagi sesendok gula

Aih, entah sampai kapan aku bingung
Bingung, pada diriku yang bingung
Bingung, pada diriku yang linglung


Maroko,20/2/2013.

Bunga-bunga, Jangan cepat layu!

layu

Sungguh aku tak mengerti
Pada bunga-bunga hari ini
Baru mekar pagi
Sore layu kembali

Ada apa dengan bunga-bunga
Begitu cepatkah engkau layu
Sang surya belum puas menatapmu
Bumi masih ingin bersama mekarmu
Hembusan belum selesai menebar semerbakmu
Engkau begitu mudah terayu bujuk si hidung belang
Kumbang-kumbang jalang

Engkau biarkan madumu dihisap kumbang jalang
Mahkotamu direnggut si hidung belang
Hanya demi nafsu bejat sesaat

Coba kau tatap pagimu, bunga
Begitu indah dan menawan, bukan
Tidakkah kau ingin bertemu pagi esok hari
Dengan semerbak lebih wangi
Bersama embun permadani
Bersama sang surya yang tak pernah lelah berbagi

Semoga kau cepat bertemu sang penjaga taman
Kebun cinta, penyiram bunga-bunga
Merawat dan menjagamu dari kumbang-kumbang jalang
Merawat dan menjagamu dari si  hidung belang
Agar kau tak mudah layu
Agar kau tak mudah terayu
Agar taman-tamanku tetap indah bersamamu.


Maroko,20/2/2013.

13 Februari, 2013

Hamba Yang Hilang

Langkah demi langkah ku ukir
Melangkah  menujuMu
Satu langkah ku pacu
Dua tiga langkah ku tersungkur, terjungkir

MenujuMu bagiku tak gampang
Istiqomahku belum terpampang
Nafsuku belum terkekang
Niat tulusku masih mengambang

Entah kapan ku bisa mendekatMu
Jika detik-detikku hanya kelam
Jika menit-menitku hanya hitam
Semakin jauh saja jarakku denganMu

Kata mereka dalam nasihat
Takut musuh, ku menjauh berkelebat
Takut padaMu ku mendekat
Takut padaMu ku merapat

Langkahku menujuMu takkan sempurna, aku sadar
Langkahku menujuMu takkan berhenti, aku berikrar

Bimbing langkahku ke arahMu
Jalan lurus  menujuMu
Jadikan hati dan pikiranku selalu mengingatMu
Jadikan raga dan jiwaku selalu mengamal perintahMu

Tunjuki aku jalan lurusMu
Jalan mereka yang Kau beri kenikmatan
Tunjuki aku jalan lurusMu
Bukan jalan mereka yang Kau benci dan kesesatan.

Negeri Senja, 12/2/13
Dalam hening malam yang beku.

07 Februari, 2013

Merindu Beku


Lembayung senja mengukir mahligai cinta. Raja Siang berarak keperaduan. Ratu Malam hampir selesai berias. Aku menunggunya untuk menemaniku menghabiskan malam ini. Aku mau ia menemaniku menghatamkan satu dua bait syair lagi, agar syair-syair yang mulai ku rajut sore tadi tersulam sempurna.

Si Ratu Malam bertengger anggun di suasana langit sunyi senyap. Bala tentaranya ribuan bintang gemintang menambah sempurna kerajaan langit malam. Singgasana indah, seindah ukiran bait-bait malam itu. 

malam itu aku menulis sebuah puisi sederhana untuk si dia di seberang benua sana, lewat bait-bait romantis itu aku bercerita tentangku yang di perantauan. “Merindu beku itu dilemamaku” ku sampaikan padanya. Ceritaku itu tak berujung. Sama seperti rinduku yang tak pernah berakhir. Merajut episode  demi episode. Mungkin suatu saat menjadi Roman terbaik dunia abad modern ini. Itu hanya sebuah khayalan. Aku sedang meracau. Jangan dipercaya.

Entah kenapa, malam itu cukup menghibur si bujang yang sedang melabuh rindu ini. Mungkin sinar purnama itu yang menjadikan kami seolah-olah sangat dekat. Memandang si purnama yang sungguh menawan.

Lewat bait-bait puisi malam itu, ku bisikkan juga kalimat rindu berkeping rindu. “rinduku tak bertepi. Layaknya Atlantis. Samudera indah nan perkasa. Dekat tempatku melabuh asa saat ini”. kataku lagi pada bait-bait syair berikutnya.

Sayup-sayup kudengar sang Ratu Malam menyapaku. “Hai, sedang apa disana. Apa yang kau tulis dalam lembaran-lembaran kertas putihmu itu”. Agak sedikit kaku dan malu, aku menjawab. “Aku sedang membuat puisi rindu untuknya yang di seberang sana. Rindu yang memasungku berhari-hari ini. Rindu yang membuat hari-hariku semakin panjang. Membuat malam-malamku seolah tak mau berjumpa pagi. Membuat tidurku selalu mengigau namanya. Bahkan, membuat tubuhku tak mampu berdiri tegak. Derita separuh jiwa berada di seberang ”.

Dengan penuh senyum, sang Ratu Malam menggodaku. “ oh, indah sekali kisah rindumu itu, kau membuatku iri saja. Aku juga sedang merindu, bahkan selalu merindu” katanya.

Tanpa ku pinta, sang Ratu Malam pun bercerita tentangnya. Tentang kisah rindu kepada sang Raja Siang. Rindu yang sangat-sangat rindu. Entah kapan bisa terobati.

Katanya, mereka berdua tak pernah bertemu bertatap muka, apalagi bertegur sapa. “Tapi aku sangat yakin si Raja siang juga pasti sangat merinduiku, rindu ingin bertemu”. Lanjutnya, penuh harap.

Lalu ku memberanikan diri bertanya. “ Dari mana kau tau, kalau sang Raja Siang juga merinduimu”. “Dari semburat mega merahnya dikala senja, dari raut sinar harapan di pagi hari saatku meninggalkannya pergi ke belahan bumi lainnya”. Katanya dengan yakin.

“Berarti malam ini kita sama-sama merindu, merindu walau tak pernah bertemu” kataku pada sang Ratu Malam.”iya, betul sekali”. Jawabnya pendek.

“Lalu bolehkah ku titipkan padamu salam rindu untuknya di seberang sana, yang juga sedang menatap indahmu dari kejauhan. Sama sepertiku saat ini”. Pintaku pada sang Ratu Malam.

Sampaikan padanya, jangan lelah menungguku. Jangan risau dengan janjiku. Jangan berhenti merinduku. Sampai Tuhan mempertemukan kita dalam rahman dan rahimNya. Dalam mahligai ridhoNya.

Sampaikan juga padanya. Bahwa, aku disini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi imam terbaik dalam hidupnya kelak. Mempersiapkan diri agar mampu menjadi nahkoda yang tangguh untuk kapal pelayaran kami esok hari. Katakan, bahwa aku takkan pernah berhenti merindunya, sampai pertemuan itu terjadi.

Malam semakin kelam. Udara semakin membeku. Bait-bait syair tersulam sempurna. Aku beranjak pergi meninggalkan sang Ratu Malam yang masih dalam rindunya. Sebelum langkahku sempurna meninggalkannya. Sang Ratu Malam menitipkan salam rindu untuk sang Raja Siang. “Salam rindu abadi” ucapnya. Akupun mengangguk tersenyum. “iya, insya Allah. Jika Tuhan masih mengizinkanku bertemu siang esok hari”.

Azan subuh dari menara segi empat membangunkan mimpiku. Selimut tebal yang membalut tubuhku ternyata tak mampu berkutik disergap sang dingin. Tubuhku tetap menggigil dibuatnya.

Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Ku basahi anggota wudhuku dengan air hangat yang sedikit membantuku melawan dingin dan kantuk. Ku hamparkan sajadah biru muda itu. Dalam sujud ku pinta padaNya. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 74).


Maroko, 7/2/2013.