09 Mei, 2013

Aku, Dia; Cinta


*Perkenalan
Aku mengenalnya sepintas saja,
Sekedar pernah bersapa
sekedar sapa apa adanya,
hanya seperlunya.
Tak kurang tak lebih.

Aku tak pernah menyapanya lebih banyak,
bukan aku tak mau atau tak berani,
tapi aku menghormatinya.

Dia begitu bersahaja,
menjaga pandangan, pakaian dan tutur kata.
Jadi, mana mungkin aku merusak 
semua keindahan itu.
Aku tak ingin keanggunan busana dan tutur katanya 
ternodai oleh tingkah lakuku.

*Permata Berlapis Kaca 
Dia ibarat permata berlapis kaca,
tak ada yang bisa menyentuhnya,
karena ia sangat istimewa.

Tapi entah kenapa,
tegur sapa ala kadarnya itu membuatku kelimpungan,
seolah baru menyapa sang ratu bertahta.
Terkesan sekali aku dibuatnya.

*Definisi Cinta
Sampai saat ini,
aku hanya mampu menatap dan menyapanya dari jauh,
jauh sekali,
dari lubuk hatiku yang terdalam.

Dia membuatku mengaguminya terlalu berlebihan,
sampai aku tak mampu memahami,
apakah ini kekaguman yang wajar,
atau ini yang mereka sebut Cinta itu.

Cinta? Ah, kata-kata itu terlalu klasik untukku.
Kata-kata yang telah lama kudengar, dengan sejuta definisinya.
Tapi, jujur, aku tak pernah memahami
bagaimana citrarasa makhluk yang bernama Cinta ini,
apalagi mendefinisikannya dalam versiku sendiri.
Aku buta tentang rasa ini.

*Tentang Cinta 
Tentang Cinta,
sebenarnya banyak teman yang mengajariku,

katanya cinta itu indah,
cinta itu sahdu mendayu.

Bahkan, Habiburrahman el-shirazy
Sang penulis novel-novel tentang cinta
yang sangat kukagumi itu
ikut mengajariku tentang cinta,

katanya:

"CINTA adalah KEKUATAN yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibbah,
itulah CINTA."

*Pengakuan Jujur Tentang Cinta 
Dalam puisi selanjutnya,
beliau menyadari bahwa, 
tak ada yang mampu mendefinisikan cinta secara utuh,
sama sepertiku yang bahkan tak pernah mampu sama sekali
mendefinisakan cinta dalam versiku.
Ini pengakuan jujur beliau itu,

"Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, CINTA ternyata lebih terang.
Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya.
Kata kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada CINTA.
Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur.
CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan."

*Pinangan 
Jika membuka lembaran masa lalu,
sepertinya sudah beberapa kali aku pernah mengagumi
lawan jenis yang sebaya atau
beberapa tahun lebih muda dariku.

Tapi entah kenapa, yang ini sepertinya lain.
Aku seolah mengagumi semua sisi darinya.
Tentang senyumnya, tawanya, sapanya, busananya, akhlaknya,
dan lain-lainnya, begitu banyak.

Tapi sekali lagi,
aku telah bertekad takkan mengusiknya,
apapun namanya.

Biar rasa ini berlalu begitu saja.
Aku tak berhak mencurahkan rasa ini kepadanya,
jika aku tak mampu menatapnya dalam tatapan halal yang lebih lama.

Jarak masa begitu membentang jauh
jika aku mengutarakan rasa ini
dalam lembaran pinangan dan
kemudian memintanya menunggu untuk sebuah akad suci itu.

Karena aku masih punya asa untuk kedua orangtuaku.
Untuk membahagiakan mereka terlebih dahulu.
Tak ada kebahagianku sebelum kebahagian kedua orang tuaku.
Itu komitmenku tempo dulu yang takkan pernah kuingkari.

*Bayang-Bayang Rindu 
Jujur saja,
aku tak ingin meraba rasa ini terlalu dalam,
karena takut ia hanya sekam
yang akan membakarku
jika terpercik api-api nafsu itu.

Aku berusaha untuk selalu menghindar darinya,
walau terkadang aku tak berkutik
kala rindu dan bayang-bayang itu menyambangi dalam sepi.

*Janji-Janji Surga
Sudahlah, 
aku tak mampu berbuat banyak,

menghapus virus ini terlalu kusar bagiku,
membiarkannya tetap bersarang dalam hati
juga hanya akan membuatku semakin beku.

Biarlah semua ini mengalir pada arusnya,
berotasi pada orbitnya.

Untuk saat ini, aku hanya mampu mengatakan
"aku sungguh mengagumimu" itu saja.

Tak mau berharap lebih.
Tak mau berjanji-janji surga.

*Makhluk Halus Bernama Cinta
Terakhir,
jika benar ini cinta,
ia akan kuserahkan pada takdirNya.

Jika catatan di Lauh Mahfuzd itu,
aku bersamanya, maka
dia pasti ada dihujung penantian,

namun jika catatan takdir itu,
aku bukan bersamanya,

pasti orang yang lebih baik dariku,
yang lebih beruntung dariku,
yang lebih pantas dan siap dariku
akan menemukannya.

Biar rasa ini hanya jadi rahasia antara aku dan Tuhanku.
Dalam misteri sebuah rasa.
Pada makhluk halus bernama Cinta.


Di malam yang mulai menghangat,
Maroko, 8/5/2013.

08 Mei, 2013

Aku, Dia; Cinta


Aku mengenalnya sepintas saja, pernah bersapa sekedar sapa apa adanya, hanya seperlunya. Tak kurang tak lebih. Aku tak pernah menyapanya lebih banyak, bukan aku tak mau atau tak berani, tapi aku menghormatinya. Dia begitu bersahaja, menjaga pandangan, pakaian dan tutur kata. Jadi, mana mungkin aku merusak semua keindahan itu. Aku tak ingin keanggunan busana dan tutur katanya ternodai oleh tingkah lakuku.

Dia ibarat permata berlapis kaca, tak ada yang bisa menyentuhnya, karena ia sangat istimewa. Tapi entah kenapa, tegur sapa ala kadarnya itu membuatku kelimpungan, seolah baru menyapa sang ratu bertahta. Terkesan sekali aku dibuatnya.

Sampai saat ini, aku hanya mampu menatap dan menyapanya dari jauh, jauh sekali, dari lubuk hatiku yang terdalam.

Dia membuatku mengaguminya terlalu berlebihan, sampai aku tak mampu memahami, apakah ini kekaguman yang wajar, atau ini yang mereka sebut Cinta itu.

Cinta? Ah, kata-kata itu terlalu klasik untukku. Kata-kata yang telah lama kudengar, dengan sejuta definisinya. Tapi, jujur, aku tak pernah memahami bagaimana citrarasa makhluk yang bernama Cinta ini, apalagi mendefinisikannya dalam versiku sendiri. Aku buta tentang rasa ini.

Tentang Cinta, sebenarnya banyak teman yang mengajariku, katanya cinta itu indah, cinta itu sahdu mendayu. Bahkan, Habiburrahman el-shirazy Sang penulis novel-novel tentang cinta yang sangat kukagumi itupun ikut mengajariku tentang cinta, kata beliau:

CINTA adalah KEKUATAN yang mampu
mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah malang jadi untung,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah setan jadi nabi,
mengubah iblis jadi malaikat,
mengubah sakit jadi sehat,
mengubah kikir jadi dermawan,
mengubah kandang jadi taman,
mengubah penjara jadi istana,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibbah,
itulah CINTA.

Dalam puisi selanjutnya, beliau menyadari bahwa tak ada yang mampu mendefinisikan cinta secara utuh, sama sepertiku yang bahkan tak pernah mampu sama sekali mendefinisakan cinta dalam versiku. Ini pengakuan jujur beliau itu" Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar. Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri. Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang. Namun tanpa lidah, CINTA ternyata lebih terang. Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya. Kata kata pecah berkeping keping begitu sampai kepada CINTA. Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya. Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur. CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan.

Jika membuka lembaran masa lalu, sepertinya sudah beberapa kali aku pernah mengagumi lawan jenis yang sebaya atau beberapa tahun lebih muda dariku. Tapi entah kenapa, yang ini sepertinya lain. Aku seolah mengagumi semua sisi darinya. Tentang senyumnya, tawanya, sapanya, busananya, akhlaknya, dan lain-lainnya, begitu banyak. Tapi sekali lagi, aku telah bertekad takkan mengusiknya, apapun namanya. Biar rasa ini berlalu begitu saja. Aku tak berhak mencurahkan rasa ini kepadanya, jika aku tak mampu menatapnya lebih lama dalam tatapan yang halal. Jarak masa begitu membentang jauh jika aku mengutarakan rasa ini dalam lembaran pinangan dan kemudian memintanya menunggu untuk sebuah akad suci itu. Karena aku masih punya asa untuk kedua orangtuaku. Untuk membahagiakan mereka terlebih dahulu. Tak ada kebahagianku sebelum kebahagian kedua orang tuaku. Itu komitmenku tempo dulu yang takkan pernah kuingkari.

Jujur saja, aku tak ingin meraba rasa ini terlalu dalam, karena takut ia hanya sekam yang akan membakarku jika terpercik api-api nafsu itu. Aku berusaha untuk selalu menghindar darinya, walau terkadang aku tak mampu berkutik kala rindu dan bayang-bayang itu menyambangi dalam sepi.

Sudahlah, aku tak mampu berbuat banyak, menghapus virus ini terlalu kusar bagiku, membiarkannya tetap bersarang dalam hati juga hanya akan membuatku semakin beku. Biarlah semua ini mengalir pada arusnya, berotasi pada orbitnya. Untuk saat ini, aku hanya mampu mengatakan" aku sungguh mengagumimu" itu saja. Tak mau berharap lebih. Tak mau berjanji-janji surga.

Terakhir, jika benar ini cinta, ia akan kuserahkan pada takdirNya. Jika catatan di Lauh Mahfuzd itu, aku bersamanya nanti, maka dia pasti ada dihujung penantian, namun jika catatan takdir itu, aku bukan bersamanya, pasti orang yang lebih baik dariku, yang lebih beruntung dariku, yang lebih pantas dan siap dariku akan menemukannya. Biar rasa ini hanya jadi rahasia antara aku dan Tuhanku. Dalam misteri sebuah rasa. Pada makhluk halus bernama Cinta.

Di malam yang mulai menghangat,
Maroko, 8/5/2013.

20 April, 2013

Semangat dan Pencerahan


·    Kita semua berangkat dari gelap; singgah sebentar diantara terang dan gelap, menuju gelap yang berkepanjangan, sampai terang kembali menjemput.

·  Begitu sulitkah membangun semangat yang hilang, sehingga ku seolah tak mampu berdiri utuh...#Semangat! kembalilah....!

·        Walau setitik, tapi itu tetap cahaya. Sepekat apapun dosa yang kau buat, pasti titik itu tetap ada, dan Tuhanmu Maha Pemaaf.

·      Jika kau tak mampu memiliki atau merasakan sesuatu yang ingin kau miliki atau kau rasakan, maka jagalah pandanganmu darinya.

·      Orang-orang hebat tak pernah menyerah dengan keadaan, justru keadaanlah yang menyerah karena kehebatannya.

·     Selagi itu masih rasional, maka tidak ada yang tidak mungkin, keterbatasan bukan halangan, tantangan ada untuk ditaklukkan.

·         Bijaksanalah dalam menyikapi masalah, maka masalah akan bijaksana menyikapi anda.

·         Seseorang itu tidak dilihat sebagai apa dia, tetapi sejauh mana ia mampu menjiwai sebagai siapa dia.

·     Semua yang kita saksikan di alam raya ini mengandung filosofi kehidupan, tinggal sejauh mana seorang ahli hikmah menggalinya.

·         Setiap nasihat yang kita sajikan kepada orang lain, sebenarnya adalah nasihat untuk diri kita sendiri.






18 April, 2013

Optimis INDONESIAKU


Aku ingin menatap optimis INDONESIAKU di masa depan,
Karena harapan itu masih ada.

Semoga kebobrokan dari semua lini yang ditampilkan di depan layar panggung TANAH AIR saat ini, tak lama lagi akan berganti dengan layar kejayaan dan kegemilangan.

Karena kami ada untukmu INDONESIAKU…!
Karena kami ada untukmu TANAH AIRKU...!

Mari temani aku menatap optimis INDONESIA di masa depan, kawan !

Puisi dan Hidup


 Selain berima,
puisi harus bermakna
Biar kata tak sekedar kata
Biar pena tak hanya bicara
Begitu juga hidup, kau analogikan saja, kawan!

@el-Amdah Ihsan-Maroko, 24/03/'13

Masalah

Mau tidur teringat padamu
Mau makan teringat padamu
Mau apapun teringat padamu
Masalahku...

Kemanapun ada bayanganmu
Dimanapun ada bayanganmu
Di semua waktuku ada bayangmu
Masalahku...

Kau datang bertubi-tubi, berlusin-lusin
Hampir babak belur aku dibuatmu
Mungkin ini tebusan atas dosa-dosaku,
atau teguran atas kelalaianku...
#semoga aku kuat dengan pertolongan-Nya.

@el-Amdah Ihsan-Maroko, 21/10/12

07 April, 2013

Libur Musim Semi PPI Maroko


Hari ini, Minggu 7 April 2013, Seluruh mahasiswa di Maroko akan memulai libur musim semi tahun ini. Hal ini Berdasarkan kalender pendidikan yang dikeluarkan oleh kementerian Pendidikan Maroko. Libur musim semi tahun ajaran 2012-2013 akan berlangsung selama satu minggu, yaitu sejak 7 April hingga 14 April.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap libur musim semi tiba, saya selalu meluncur ke ibu kota, Rabat.

Di ibu kota, saya dan sebahagian besar rekan-rekan mahasiswa anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko – dari berbagai kota di Maroko - akan berkumpul di sekretariat pusat. Hal ini, selain bersilaturrahmi kepada sesama pelajar Indonesia yang ada di Maroko, juga karena PPI Maroko menyelenggarakan turnamen tahunan musim semi, sekaligus perekrutan Atlit-atlit (Timnas) yang akan bertanding di Acara SEAS Games tahun ini.

SEAS Games (Southeast Asian Student Games) adalah salah satu turnamen bergengsi antar mahasasiswa Negara-negara Asia Tenggara yang ada di Maroko, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Turnamen ini diselenggarkan setiap dua tahun sekali, ketika musim panas. Pada kesempatan selanjutnya, insya Allah kita akan membahas tentang SEAS Games ini secara panjang lebar.

Untuk mengisi waktu libur, sekaligus mempersiapkan diri untuk ajang SEAS Games tahun ini. Maka, PPI Maroko menghadirkan berbagai kegiatan turnamen di Musim semi kali ini.

Acara akan dibuka pagi hari ini di Kedutaan Besar RI untuk Kerajaan Maroko, Rabat. Kemudian dilanjutkan dengan turnamen cabang pimpong (putri), dan Volly Ball (putra).Kegiatan musim semi ini juga akan berkangsung selama satu minggu penuh, sampai masa libur selesai.

Olahraga yang akan di pertandingkan pada turnamen musim semi kali ini cukup beragam, mulai Tenis Meja, Volley Ball; Futsal, Badminton dan terakhir Sepak Takraw.

Selain turnamen olahraga, PPI Maroko juga mengadakan latihan IT yang meliputi Pelatihan Ms. Office, Design Video;  Design Grafis dan Programin, sedangkan pada malam harinya PPI Maroko juga mengadakan nonton bareng (Nobar)  di sekretariat, untuk melepas lelah setelah seharian berolahraga. Ikuti terus liputan selanjutnya ya. Insyaallah akan seru.


01 April, 2013

Cinta & Pandangan Pertama


Tanpa rasa
Tanpa cinta
yang bermula
Kita berjumpa

Tanpa nada
Tanpa irama
yang bergema
Kita bersua

Pandangan pertama
dalam diam
sepi, sunyi
aku terkesima, dan jatuh cinta.


Mohammedia, 1 April 2013.